Persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) Sebagai Landasan
“Sesungguhnya orang-orang mu’min itu adalah bersaudara…”
{Q.S. Al-Hujuraat (49):10}
Salah satu hikmah dari eksistensi kita sebagai manusia di dunia adalah menerima Islam sebagai agama, sebagai tuntunan hidup, dan sebagai cahaya penerang dalam kegelapan.
Dalam Islam telah banyak pelajaran akan arti pentingnya membangun persaudaraan, membangun jama’ah yang solid, dan memakainya untuk kepentingan Khalifattul ‘ard, mengaplikasikan keberkahan yang dijanjikan Allah SWT di muka bumi ini
Dalam sebuah Hadits Shahih disebutkan: “Jika seorang mukmin menginginkan keberkahan hidup, meluaskan rezekinya, maka hendaklah ia membina silaturahmi dan janganlah ia memutuskannya…”
Kita boleh saja menjadi orang yang berhasil atau belum berhasil dalam hidup di dunia ini, apapun itu yang penting kita memiliki teman dan saudara. Perbedaan dengan orang yang tidak memiliki teman atau saudara adalah jikalau mengalami kesulitan maka ia tidak tahu kemana akan berbagi, terpaksa dipanggul sendiri, dan hal ini berlaku kebalikannya dengan orang yang memiliki teman atau saudara yang bisa diajak berbagi
Sejarah juga membuktikan bahwa pertemanan, persaudaraan dan berusaha mencarinya adalah pilar kemenangan. Itulah mengapa Rasulullah SAW berdakwah dengan cara awal berupa dari pintu ke pintu, berbisik-bisik, lalu terangan-terangan dan berkhotbah dimuka umum. Pada hari ini, awalan yang sederhana tadi telah berbuah dengan diperhitungkannya Islam sebagai sebuah kekuatan yang diperhitungkan di muka bumi
2. ( Weakness ) Kelemahan Berasal dari Perpecahan
“Perumpamaan antara orang yang berjama’ah dan tidak berjama’ah adalah laksana sekumpulan domba yang serigala takut untuk mendekatinya, dan ketika seekor domba keluar memisahkan diri maka ia akan segera menjadi (korban) terkaman serigala…”
( H.R. At-Tirmidzi, sanadnya-Hasan )
3. ( Opportunity ) Bukti Kekuatan Sebuah Jama’ah
“Sesungguhnya Allah (SWT) menyukai orang-orang yang berperang (berjihad/ ber-sungguh2) di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka itu laksana suatu bangunan yang tersusun kokoh”
{Q.S. Ash-Shaf (61):4}
Sebuah kisah yang menjadi sebuah pelajaran kepada kita ketika suatu saat di akhir tahun 1960-an, almarhum KasAD Jend. Ahmad Yani memergoki perwira Soeharto (alm.) membisniskan logistik tentara di Kodam IV Diponegoro dengan seorang pemilik toko kelontong asal Semarang bernama Liem Sioe Liong. Diluar kejadian yang akhirnya mempermalukan (alm.) Soeharto saat itu, pada kelanjutannya sang pengusaha kelontong mendapat rezeki besar ketika kawan bisnis illegal-nya itu berkuasa dan menjadi presiden Republik Indonesia. Dengan bendera korporasi IndoXXX ia membangun banyak usaha konglomerasi dengan merekrut “saudara-saudara”-nya dari daratan cina dan memberikan angin segar bagi etnis tertentu untuk meraup kekayaan tak terbatas di negeri “Nyiur Melambai” ini. Sebutlah nama-nama yang ikut dalam konglomerasi yang terkenal di kemudian hari karena kejahatan korupsi: Sjamsul Noersalim, Prajogo Pangestu, Thee Nin King. Mereka berhasil membuat system ekonomi Indonesia terpusat dan tidak bisa lolos kecuali melalui kelompok mereka. Dan secara tidak sengaja justru merekalah yang telah mengamalkan surat Al-Quran di atas meskipun dengan cara dan niat yang salah, tetap saja dampaknya begitu dahsyat tetap mewarnai negeri kita hingga saat ini.
Di lain contoh adalah peristiwa radikal berupa perang yang terkenal dengan sebutan “Perang Enam Hari” yang terjadi pada tahun 1967. Saat itu sebuah negeri kecil bernama Israel tengah diperangi dengan cara keroyokan oleh 5 negara besar Arab: Irak, Suriah, Yordania, Mesir, dan Libya. Karena Negara-negara Arab terlanjur memiliki egoisme masing-masing maka perang menjadi susah di-koordinir. Belum lagi banyak elemen pejuang lokal Palestina yang keluar dari gelanggang perang setelah mengetahui bahwa presiden Gamal Abdul Nasseer tidak berperang untuk kesucian masjid Al-Aqhsa melainkan untuk meluaskan Pan-Arabisme yang berdasar filsafat Marxisme. Hal ini memunculkan kenyataan tak terduga di akhir perang selama 6 hari, yaitu Israel menang telak dan menggusur mundur kekuatan 5 negara besar sekaligus. Maka kemudian muncullah sebuah seloroh bahwa Israel menang karena berSatu sementara negara-negara arab berLima…
4. ( Threat ) Membangun Sebuah Jama’ah Yang Solid
Tantangan terbuka yang ada dalam setiap jama’ah/ organisasi/ perserikatan adalah manajemen pengelolaan dari masing-masing kelompok. Setiap dari resiko menuju keberhasilan pastilah akan menghadapi tantangan yang sepadan
Sumber Daya Manusia (SDM)
Masing-masing personil jama’ah/ organisasi/ perserikatan memiliki kontribusi untuk membangun kekuatan kelompok melalui pembinaan diri-pribadi, skill-upgrade, dan membangun relasi diluar kelompok untuk kepentingan internal jama’ah
Hal lain yang tak kalah penting adalah kesemua hal diatas berhak pula didapat oleh anggota dengan cara download dari manajemen kelompok, dalam hal ini maka profesionalitas (pada tataran sepadan) manajemen jama’ah/ organisasi/ perserikatan menjadi penting
Sarana-Prasarana
Basis utama dari sarana-prasarana adalah teknologi, sederhana maupun tingkat lanjut. Sarana-Prasarana sangat penting untuk dimiliki, dikembangkan, dan dimanfaatkan. Pada konteks kekinian terdapat sebuah ungkapan bahwa “Barangsiapa memiliki informasi (pertama diantara yang lain) maka ia telah memperoleh separuh kemenangan”, hal ini disempitkan oleh ahli strategi menjadi “Siapa yang memiliki informasi maka ia akan memperoleh kemenangan”
Sudah sejak dulu informasi selalu menjadi bahan incaran, sebab ialah penentu tindakan. Teknologi terkini berujud digital pun akhirnya diberi nama Teknologi Informasi (T.I.)/ Information Technology, ia dapat berupa teknologi Software, teknologi Internet, teknologi Penginderaan Jauh
Lain-lain
( Segala hal terbuka untuk kustomisasi untuk peningkatan mutu jama’ah/ organisasi/ perserikatan )
Dan dengan demikianlah sebuah kelompok dijanjikan kemenangan di dunia ini oleh Allah SWT karena ia memiliki niat, cara, dan langkah yang benar menuju cita-cita tertinggi. Karena Islam bersifat universal maka siapapun yang menjalani langkah-langkah yang disyari’atkan akan memperoleh kemenangan, dan sebuah kerugian ketika justru kaum muslimin sendiri yang memiliki Islam justru kalah bersaing karena tidak mengaplikasikan Islam dalam kehidupan.
Latar belakang
Beberapa orang seperti mas Nur Hafidz, mas Siswanto, dan mas Agus Wiyono (angk' 98) ketika bekerja di Jakarta pada periode 2003-2004 menghubungi mbak Nelly (angk.’98 ) yang tinggal dan berdomisili di rumah orangtuanya di jl. Inpres, Ciledug, Tangerang dan pertamakali membentuk sebuah wadah untuk menjalin silaturahmi antar alumnus Arsitek UMS yang bekerja dan tinggal di
Pada bulan Ramadhan 2004M PIMJ mengadakan acara BukaPuasa bersama PIMJ di restoran cepat saji di ruko Blok-M, Jakarta Selatan, pada waktu itu berkumpul untuk mengukuhkan kepengurusan PIMJ, kepengurusan pertama digawangi oleh mas Agus Wiyono’98 dengan mbak Nelly'98 sebagai bendahara merangkap sekretaris. Pada acara tersebut, yang hadir di antaranya
Pada waktu itu diangkatlah mas Nur Hafidz ’98 sebagai ketua-1 dan mas Wawan Budi Nugroho’98 sebagai ketua-2, untuk menggawangi kepengurusan PIMJ untuk masa bakti 1 tahun ke depan (dengan catatan untuk regenerasi belum dimantapkan periodenya, alias seikhlas-nya ia memimpin), dan mbak Nelly’98 tetap sebagai Sekeretaris dan Bendahara.
Adapun agenda tetap yang dicanangkan untuk terus dilaksanakan adalah:
- Pertemuan rutin tiap 2 bulan sekali
Pada awalnya pertemuan dicanangkan untuk dilaksanakan di tempat tinggal masing-masing anggota PIMJ dimanapun dan apapun status tempat tinggalnya (boleh bukan tempat tinggal tetap) untuk menjalin silaturahmi dan mengenal wilayah tempat masing-masing anggota tinggal
- Iuran sukarela
Besaran yang ditetapkan adalah Rp 20.000,00 dengan rincian separuh untuk konsumsi yang akan dikelola oleh anggota yang menjadi tuan rumah pertemuan, dan separuh lagi sebagai Dana Kas yang diperuntukkan sebagai dana social apabila anggota memerlukan bantuan darurat terutama untuk urusan kesehatan & keselamatan medis.